Junjungan kita Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada kita mengenai
sifat-sifatnya agar kita berhati-hati dari fitnahnya. Beliau menerangkan
bahwa dajjal adalah seorang laki-laki, muda, berkulit merah, buta sebelah matanya, tidak punya anak, tertulis di antara kedua matanya 'kafir' yang bisa dibaca setiap muslim.
Dari Ubadah bin Shomit ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki pendek, berkaki bengkok, keriting, buta sebelah mata, terhapus mata, tidak menonjol dan tidak bermata cekung. Jika disamarkan kepadamu, maka ketahuilah bahwa Tuhanmu Subhanahu wa Ta'ala tidak buta sebelah matanya. (HR. Ahmad)
Beliau bersabda: Selain Dajjal yang lebih saya khawatirkan atas diri kalian. Apabila dia muncul sedangkan saya masih ada di antara kalian, maka sayalah yang akan mematahkan hujjahnya untuk membela kalian. Apabila dia muncul dan saya sudah tidak ada di antara kalian, maka tiap-tiap orang membela dirinya sendiri. Allah yang menggantikan diriku atas setiap orang muslim. Dajjal adalah pemudayang berambut keriting, matanya sayu, seakan-akan saya menyamakannya dengan Abdul Uzza bin Qathan (seseorang yang binasa pada masa jahiliyah).
Barangsiapa bertemu dengannya, maka bacakan kepadanya bagian pembukaan surat Al-Kahfi. Dia muncul di daerah antara Syiria dan Irak. Dia membuat banyak kerusakan di kanan dan di kiri. Wahai hamba-hamba Allah! Tetaplah (pada keimanan dan janganlah melenceng darinya).” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah! Berapa lama dia berada di muka bumi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Empat puluh hari. Yang sehari bagaikan setahun. Sehari lagi bagaikan sebulan. Dan sehari lagi bagaikan sepekan. Sedangkan hari-hari lainnya seperti hari-hari biasa.”
Kami kembali bertanya, “Wahai Rasulullah! Pada sehari yang bagaikan setahun, cukupkah bagi kami melakukan shalat untuk sehari dalam hari tersebut?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak. Perkirakanlah kadar waktunya.”
Kami bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Seperti apakah kecepatan Dajjal di bumi?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bagaikan mendung yang ditiup angin. Dia mendatangi suatu kaum, lalu dia mengajak kaum tersebut, kemudian mereka beriman kepadanya dan menerimanya. Lantas dia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka langit pun menurunkan hujan. Dia memerintahkan bumi untuk mengeluarkan tanaman, lantas bumi pun menumbuhkan tanamannya, sehingga binatang-binatang ternak mereka kembali di penghujung siang dalam keadaan yang sangat baik, punuknya besar, serta gemuk dan kenyang.
Kemudian dia mendatangi kaum lain, lalu dia mengajak kaum tersebut, dan ternyata kaum ini menolaknya (mereka masih teguh dengan ketauhidannya), lantas dia berpaling dari kaum tersebut, lantas mereka mengalami paceklik (tidak ada hujan turun di wilayah mereka dan rerumputan menjadi kering). Tidak ada harta apa pun di tangan mereka dan mereka berjalan melewati reruntuhan, kemudian Dajjal berkata pada reruntuhan tersebut, ‘Keluarkanlah harta pendamanmu,’maka harta pendaman reruntuhan tersebut mengikutinya sebagaimana ratu lebah. Selanjutnya Dajjal memanggil seorang pemuda kekar, lalu dia membelahnya dengan pedang menjadi dua bagian yang terpisah jauh sejauh lemparan, kemudian ia memanggilnya lagi, lantas potongan tubuh itu menghadap dengan wajah yang berseri-seri sambil tertawa.
Dalam kondisi yang demikian, selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Isa Al-Masih bin Maryam. Beliau turun di menara putih sebelah timur Damaskus, mengenakan dua pakaian yang diwarnai, seraya meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap dua malaikat. Ketika beliau menundukkan kepalanya, keringat bercucuran bagaikan permata.
Orang kafir tidak mungkin mencium nafasnya kecuali langsung mati.
Nafas beliau sampai sejauh mata memandang. Kemudian Nabi Isa mencari
Dajjal sehingga beliau menemukannya di Bab Lud (nama tempat Syiria)
lalu nabi Isa membunuhnya. Selanjutnya Nabi Isa mendatangi kaum yang
telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu beliau mengusap
wajah-wajah mereka, beliau menjelaskan kepada mereka derajat mereka
di surga.
Dalam kondisi demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi wahyu
kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, ‘Sungguh, Aku telah mengeluarkan
hamba-hamba-Ku. Tidak ada seorang pun yang mempunyai kemampuan untuk
memerangi mereka. Kumpulkanlah mereka ini ke bukit Tursina
(Jadikanlah bukit Tursina sebagai benteng).’ Selanjutnya Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengirim Ya'juj Ma'juj. Mereka turun dengan
cepat dari seluruh tempat yang tinggi.
Orang pertama di antara mereka melewati danau Thabariyah, lalu
mereka meminum airnya. Orang terakhir juga melewatinya, lalu mereka
berkata, 'Sungguh, tadi ada di danau ini banyak airnya' Nabi Isa
beserta sahabat-sahabatnya semakin kepepet, sehingga kepala sapi
bagi salah seorang di antara mereka lebih baik dari pada seratu
dinar bagi kalian semua hari ini (lantaran mereka sangat membutuhkan
makanan), kemudian Nabi Isa beserta sahabat-sahabatnya berdoa kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala. (Mereka memohon kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala agar gangguan Ya'juj Ma'juj segera dihilangkan), lalu Allah
mengirim cacing di dalam hidung unta dan kambing pada leher-leher
mereka. Lantas mereka pun mati sekaligus.
Kemudian Nabi Isa ‘alaihissalam beserta sahabat-sahabatnya turun ke
bumi. Ternyata mereka tidak menemukan tempat sejengkal pun di muka
bumi kecuali dipenuhi oleh bau busuk. Lantas Nabi Isa beserta
sahabat-sahabatnya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
kemudian Allah mengirimkan burung-burung semisal leher unta.
Burung-burung itu membawa bangkai Ya’juj Ma’juj lalu dilemparkan
sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah Subhanahu
wa Ta’ala mengirimkan hujan yang tidak dapat ditahan oleh tanah
keras dan gandum.
Kemudian bumi dicuci bersih sehingga seperti kaca. Lalu dikatakan
kepada bumi, ‘Tumbuhkanlah buah-buahmu dan kembalikanlah berkahmu.’
Pada hari itu sekelompok orang memakan delima dan mereka berteduh
dengan kulitnya, air susu sangat diberkahi. Bahkan, seekor unta yang
hampir melahirkan mencukupi untuk sekelompok orang banyak. Seekor
sapi yang hampir melahirkan mencukupi untuk satu kabilah. Seekor
kambing yanghampir melahirkan mencukupi satu suku. Dalam kondisi
demikian, tiba-tiba Allah Subhanahu wa Ta'ala mengirimkan angin yang
baik, lalu angin ini mengena mereka di bawah ketiak mereka, sehingga
ruh setiap orang mukmin dan muslim dicabut. Yang masih tersisa
tinggal orang-orang jahat. Orang-orang pun melakukan hubungan seks
sebagaimana keledai (artinya, lelaki dan perempuan melakukan
hubungan seks secara terang-terangan di hadapan banyak orang tanpa
rasa malu bagaikan keledai). Maka, dalam kondisi demikian datanglah
hari kiamat. (HR. Muslim)
Artikel Terkait :
Comments
Post a Comment